Salam jumpa kembali Sobat Blogger...
Kali ini saya akan menceritakan kisah hikmah 2 buah pisau. Pisau yang pertama berwarna hitam, bergagang kayu, dengan tampilan ornamen yang sangat sederhana, pemilik pisau memberinya nama Sautam. Sedangkan pisau yang satunya lagi berwarna putih kemilau, bergagang logam yang dihiasi dengan ornamen yang indah, pemilik pisau memberinya nama Sautih. Pemilik pisau menempatkan keduanya di lemari kaca di dalam rumahnya.
.
Suatu ketika pemilik pisau membeli ayam dan ikan dari pasar. Diletakanya ayam dan ikan itu dalam suatu wadah untuk dipotong-potong. Lalu ia menghampiri lemari kaca bermaksud akan mengambil pisau. Dari dalam lemari Sautam dan Sautih sudah mengira dirinya akan digunakan untuk memotong ayam dan ikan tersebut. Melihat hal itu Sautih yang merasa dirinya lebih indah dan lebih sempurna menganggap bahwa pekerjaan itu bukan bagianya karena kotor dan menjijikan. Perlahan-lahan Sautih bergeser dari tempatnya dan bersembunyi agar tidak terlihat. Sedangkan si Sautam tetep di tempatnya karena menyadari akan tugasnya. Pemilik Pisau menghampiri lemari kaca dan didapatinya hanya Sautam yang ada, maka ia mengambilnya, mengasahnya terlebih dahulu baru kemudian menggunakanya.
Begitu pula selesai digunakan si Sautam dicuci, dibersihkan dan diminyaki agar tidak berkarat dan diletakan kembali ke lemari kaca.
.
Di waktu lain si Pemilik Pisau berniat akan menguliti kulit kambing untuk selamatan di rumahnya. Sautam dan Sautih sudah mengetahui hal itu, dan lagi-lagi si Sautih bersembunyi agar tidak terlihat karena menganggap menguliti kambing adalah tugas yang kotor dan menjijikan. Pemilik Pisau menghampiri lemari kaca dan di dapati hanya Sautam yang ada di situ, lalu ia mengambil dan menggunakanya. Tetapi sebelumnya ia mengasah Sautam terlebih dahulu, begitu pula selesainya Sautam di cuci, dibersihkan, diminyaki dan diletakan kembali ke dalam lemari kaca. Begitu pula waktu Pemilik Pisau hendak menebang pohon, si Sautih menganggap pekerjaan itu terlalu kasar dan tidak cocok untuk dirinya, sehingga ia menghindar agar tidak terlihat, jadi Sautamlah yang dipakai untuk melakukan pekerjaan itu.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan Pemilik Pisau selalu menggunakan Sautam untuk mengerjakan semua pekerjaan sehari-harinya. Ia sudah terbiasa dan merasa nyaman jika pekerjaanya dilakukan oleh Sautam. Sedangkan si Sautih mulai berkarat di sana-sini dan mulai dilupakan oleh Pemilik Pisau.
Suatu hari si Pemilik Pisau punya hajat mengadakan pesta ulang tahun anaknya, ia memesan kue ulang tahun yang besar. Dari dalam lemari Sautih sudah memperhatikan dan merasa inilah tugas yang cocok dengan dirinya karena akan digunakan untuk memotong kue ulang tahun yang lezat, di tengah pesta, dilihat orang banyak dan dalam suatu acara yang terhormat. Sautih pun memposisikan dirinya agar terlihat jelas oleh si Pemilik Pisau dengan harapan dialah yang akan dipakai untuk memotong kue ulang tahun.
Ketika tiba saatnya acara pemotongan kue, Pemilik Pisau menuju ke lemari dan ia terkejut dengan adanya pisau lain di samping pisau yang sudah biasa ia pakai. Pisau yang berwarna putih dengan gagang logam yang sudah di penuhi karat bahkan sampai menutupi keindahan ornamenya. Si Pemilik Pisau lalu mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah karena sudah menjijikan dan tidak pantas ada di lemari kaca, itulah si Sautih yang dulu dibanggakan karena keindahanya kini tersingkir dan terbuang. Si Pemilik Pisau tetap menggunakan Sautam untuk melakukan pekerjaan yang terhormat ini. Sautam yang menyadari tugas dirinya sebagai pisau tidak pernah memilih-milih pekerjaan yang diberikan kepadanya, baik itu yang menyenangkan atau menyakitkan, susah maupun mudah ia kerjakan. Karena semakin sering digunakan maka ia semakin tajam, bersinar dan berwibawa.
.
Inilah kisah Sautam dan Sautih yang bisa saya ceritakan di sini. Kalau ada persamaan nama, kata, atau peristiwa, bukan lah sesuatu yang disengaja karena ini adalah cerita fiktif belaka. Namun demikian Admin berharap sobat Blogger bisa mengambil hikmah positif di balik cerita ini, diantaranya:
Kali ini saya akan menceritakan kisah hikmah 2 buah pisau. Pisau yang pertama berwarna hitam, bergagang kayu, dengan tampilan ornamen yang sangat sederhana, pemilik pisau memberinya nama Sautam. Sedangkan pisau yang satunya lagi berwarna putih kemilau, bergagang logam yang dihiasi dengan ornamen yang indah, pemilik pisau memberinya nama Sautih. Pemilik pisau menempatkan keduanya di lemari kaca di dalam rumahnya.
.
Suatu ketika pemilik pisau membeli ayam dan ikan dari pasar. Diletakanya ayam dan ikan itu dalam suatu wadah untuk dipotong-potong. Lalu ia menghampiri lemari kaca bermaksud akan mengambil pisau. Dari dalam lemari Sautam dan Sautih sudah mengira dirinya akan digunakan untuk memotong ayam dan ikan tersebut. Melihat hal itu Sautih yang merasa dirinya lebih indah dan lebih sempurna menganggap bahwa pekerjaan itu bukan bagianya karena kotor dan menjijikan. Perlahan-lahan Sautih bergeser dari tempatnya dan bersembunyi agar tidak terlihat. Sedangkan si Sautam tetep di tempatnya karena menyadari akan tugasnya. Pemilik Pisau menghampiri lemari kaca dan didapatinya hanya Sautam yang ada, maka ia mengambilnya, mengasahnya terlebih dahulu baru kemudian menggunakanya.
Begitu pula selesai digunakan si Sautam dicuci, dibersihkan dan diminyaki agar tidak berkarat dan diletakan kembali ke lemari kaca.
.
Di waktu lain si Pemilik Pisau berniat akan menguliti kulit kambing untuk selamatan di rumahnya. Sautam dan Sautih sudah mengetahui hal itu, dan lagi-lagi si Sautih bersembunyi agar tidak terlihat karena menganggap menguliti kambing adalah tugas yang kotor dan menjijikan. Pemilik Pisau menghampiri lemari kaca dan di dapati hanya Sautam yang ada di situ, lalu ia mengambil dan menggunakanya. Tetapi sebelumnya ia mengasah Sautam terlebih dahulu, begitu pula selesainya Sautam di cuci, dibersihkan, diminyaki dan diletakan kembali ke dalam lemari kaca. Begitu pula waktu Pemilik Pisau hendak menebang pohon, si Sautih menganggap pekerjaan itu terlalu kasar dan tidak cocok untuk dirinya, sehingga ia menghindar agar tidak terlihat, jadi Sautamlah yang dipakai untuk melakukan pekerjaan itu.
.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan Pemilik Pisau selalu menggunakan Sautam untuk mengerjakan semua pekerjaan sehari-harinya. Ia sudah terbiasa dan merasa nyaman jika pekerjaanya dilakukan oleh Sautam. Sedangkan si Sautih mulai berkarat di sana-sini dan mulai dilupakan oleh Pemilik Pisau.
Suatu hari si Pemilik Pisau punya hajat mengadakan pesta ulang tahun anaknya, ia memesan kue ulang tahun yang besar. Dari dalam lemari Sautih sudah memperhatikan dan merasa inilah tugas yang cocok dengan dirinya karena akan digunakan untuk memotong kue ulang tahun yang lezat, di tengah pesta, dilihat orang banyak dan dalam suatu acara yang terhormat. Sautih pun memposisikan dirinya agar terlihat jelas oleh si Pemilik Pisau dengan harapan dialah yang akan dipakai untuk memotong kue ulang tahun.
Ketika tiba saatnya acara pemotongan kue, Pemilik Pisau menuju ke lemari dan ia terkejut dengan adanya pisau lain di samping pisau yang sudah biasa ia pakai. Pisau yang berwarna putih dengan gagang logam yang sudah di penuhi karat bahkan sampai menutupi keindahan ornamenya. Si Pemilik Pisau lalu mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah karena sudah menjijikan dan tidak pantas ada di lemari kaca, itulah si Sautih yang dulu dibanggakan karena keindahanya kini tersingkir dan terbuang. Si Pemilik Pisau tetap menggunakan Sautam untuk melakukan pekerjaan yang terhormat ini. Sautam yang menyadari tugas dirinya sebagai pisau tidak pernah memilih-milih pekerjaan yang diberikan kepadanya, baik itu yang menyenangkan atau menyakitkan, susah maupun mudah ia kerjakan. Karena semakin sering digunakan maka ia semakin tajam, bersinar dan berwibawa.
.
Inilah kisah Sautam dan Sautih yang bisa saya ceritakan di sini. Kalau ada persamaan nama, kata, atau peristiwa, bukan lah sesuatu yang disengaja karena ini adalah cerita fiktif belaka. Namun demikian Admin berharap sobat Blogger bisa mengambil hikmah positif di balik cerita ini, diantaranya:
- Lakukan tugas mu sesuai dengan profesinya masing-masing baik disaat menyenangkan maupun tidak menyenangkan.
- Suatu keahlian yang sering digunakan maka akan semakin berkembang dan semakin mudah menyelesaikan suatu pekerjaan
- Tetapi suatu keahlian yang jarang digunakan akan semakin tumpul dan tidak memberikan manfaat kepada orang lain.
- Karena sabar dalam menghadapi cobaan maka berakhir pada kemuliaan dan kebahagiaan.
No comments:
Post a Comment